Ahad, 19 Maret 2006
Rutinitas kulakukan seperti biasa. Pagi bangun, shalat shubuh, sarapan dan berangkat kerja. Memang pada bulan ini aku kerja di hari Ahad. Karena aku ambil libur di hari jum'at. Tapi di bulan April nanti aku libur di hari ahad. Sampai kantor pukul 7.45. lalu kulakukan apa yang harus kulakukan.
Saat ini pukul 9, telepon kantor pun berbunyi. Ketika kuangkat, ternyata Bang Ahmad ketua Forum alumni rohis. Aku sangat kaget ketika medengar kabar yang ia sampaikan. Bahwa 2 orang mad'u ku Durra dan Farhat mengalami kecelakan motor ba'da shubuh. Dan saat ini ada Di RS. Cipto Mangunkusumo Cikini. Mendengar kabar itu aku terdiam, hatiku hancur bagaikan di sambar petir, kepanikan pun melanda. Lalu tak tertahan air mata pun mengucur deras. Saat itu juga aku izin pada atasan ku yang juga teman da'wahku di Forum Alumni Rohis, Atrif namanya. Aku langsung bersiap, kuambil kunci motor, jaket dan tas ku. Langsung ku jalan menuju RSCM, sebelumnya aku janjian bertemu bang ahmad dan Ummi Novi untuk bertemu di tetap segar pasar minggu. Diperjalanan aku terbayang oleh fikiran yang selalu membuatku sedih, perasaan bersalah dan segala macam dugaan selalui menghantui, sehingga basahlah pipi ini dengan air mata. Sambil membawa motor aku berusaha untuk menepis segala dugaan itu dan membuang rasa bersalahku. Tapi tetap saja air mata ini menganak sungai...............-_-:
Sampai di Tetep Segar aku bertemu dengan bang ahmad dan Ummi Novi. Kuhapus air mataku, kucoba menahan rasa sedih ini depan mereka, agar mereka tak mengetahuinya. Lalu kami pun menuju RSCM Cikini. Sampai disana aku disambut oleh mad'u ku yang lain, juga bang Isma terlihat di wajah mereka kesedihan yang sangat....... aku berusaha untuk tidak terbawa suasana. Di Salah satu ruangan kulihat Farhat ketua Da'wah kaderisasi Rohis sedang terbaring lemah sambil meneteskan air mata, tangan dan kaki kanannya patah. Juga luka kecil disekitar tubuhnnya. Melihat kondisinya aku sangat terenyuh. Sejenak ku berbicara dengannya tentang musibah ini. Kecelakaan ini terjadi di mampang saat mereka berdua ingin mengerjakan proposal SLDP dirumah Ali untuk suatu acara kegiatan. Kecelakaan ini terjadi karena motor dengan kecepatan tinggi menabrak trotoar di Mampang yang 1 jalur dibelah menjadi 2 jalur. Mereka berdua memakai motor bang Isma untuk pergi. farhat memboncengi durra. Lalu aku bertanya pada farhat, dimana durra? Dia bilang durra ada di ruang ICU. Tanpa berfikir panjang langsung aku mencari ruangan ICU tersebut. Kutemukan seseorang dengan tubuh yang lemah, tak berdaya, terpejam dan ada beberapa orang dokter yang sibuk memberikan pertolongan.
Ya ... Dialah Durra sang ketua Rohis yang saat ini terbaring lemah, yang kondisi fisiknya membuat orang yang melihatnya meneteskan air mata. Bagian bahunya patah. Kepala terkena benturan. Dan luka lecet di beberapa bagian tubuhnya. Nafasnya pun ter engah-engah, sehingga harus menggunakan bantuan selang oxigen. Disampingnya ada teman terbaiknya Farra yang sedang menemaninya. Dengan perlahan kudekati tubuh yang tak berdaya itu. Kuhanya terdiam tak berucap, tanpa kusadari air mata sudah menganak sungai. Sambil kugengam tangan mad'u terbaikku. Dan terus beristigfar pada yang Kuasa. Berharap semuanya ini hanya mimpi. Hati kecil ini seakan-akan tersayat merasakan pilu karena ini nyata kuhadapi............
Tak tahan melihat keadaannya aku pun keluar meninggalkan ruangan itu. Sambil meneteskan air mata dan kupandangi tubuh itu lewat jendela ruangan. Para keluarga mad'u ku pun sudah sampai di rumah sakit. Tak bisa kubayangakan apa yang terjadi bila mereka tau anak-anaknya dalam kondisi seperti itu. Dan aku pun bingung apa yang harus kulakukan nanti. Semoga orang tua mereka bisa tabah mengahadapi ujian ini.
Lalu aku pun pergi ke ruang tunggu Rumah sakit itu. Kudapati orang tua Durra dan Ummi novi sedang duduk, juga beberapa teman2 rohis yang lain. Ibunya pun bercerita banyak tentang anak kesayangannya Durra. Sambil meneteskan air mata ia pun bercerita kepada kami. Ummi Novi berusaha terus untuk menenangkan sang ibu. Aku pun sempat berbincang dengan ibu nya. Aku menceritakan bahwa durra adalah murid ku yang terbaik, ia sangat bersemangat, enerjik, sangat ingin tau tentang Islam, rasa setia kawan yang tinggi, sayang kepada keluarga dan mempunyai hati yang peka. Tak jarang suatu ketika kita Liqo ia sering meneteskan air mata mengenai materi yang aku sampaikan. Satu yang ku tau sangat menonjol darinya, ia mempunyai jiwa leadership yang sangat baik. Ibunya pun bercerita tentang kehidupannya dirumah. Bahwa ia anak yang berbakti, suka membantu orang tua dan suka menasihati keluarganya tentang Islam, terutama ibu dan kakak pertamanya bang Dicky. Aku pun terharu mendengarkan cerita langsung dari ibunya. Dalam hati aku bersyukur mempuyai mad'u yang berhasil membimbing diri dan keluarganya kepada Sinaran Islam yang sesungguhnya.
Tak terasa waktu sudah menujukan pukul 12.05, menadakan waktu dzuhur akan masuk beberapa menit lagi. Aku dan bang ahmad bersiap untuk shalat dzuhur di musholla RSCM yang ukurannya kira2 hanya 3x3 meter. Didalam shalatku, aku memohon kepada Allah agar menyelamatkan Durra dari kondisinya saat ini. Aku tidak ingin sesuatu yang buruk menimpanya. Saat itulah aku merasa sangat dekat sekali dengan Rabbku. Aku sangat berharap Pada Nya, Menangis di hadapan Nya dan memohon kepada Nya. Dan berharap keajaiban akan terjadi..........................
Setelah shalat akupun kembali ke ruang tunggu. Di sana masih kujumpai beberapa teman2 rohis, ibu durra, saudaranya dan kakak perempuan farhat yang terus menagis di dekat ibu durra karena merasa bersalah yang amat sangat. Dan kulihat farhat bersiap di bawa pulang keluarganya untuk berobat ke H. Na'im pakar pengobatan tulang. Bang Isma pun menemani keluarganya berobat. Sedangkan ummi novi sedang mencari makanan untuk teman2 rohis.
Tak terasa waktu menjukan pukul 13.30. Sudah waktunya aku kembali ke kantor. Karena aku diizinkan keluar oleh bos ku hanya sampai jam 14.00. Aku dan bang Ahmad pun izin pamit lebih awal kepada teman2 rohis, keluarganya durra dan farhat. Dalam perjalannan pulang aku pun selalu terbayang2 dengan kondisi durra yang sekarang. Dan selalu berdoa agar Allah berkenan memberikan kesehatan dan kesembuhan padanya. Dan yang paling penting ia dapat sadar dari tidurnya. Kenangan bersamanya pun terbuka, dan kembali lagi air mata ini mengalir tak tertahan...........
Rutinitas kulakukan seperti biasa. Pagi bangun, shalat shubuh, sarapan dan berangkat kerja. Memang pada bulan ini aku kerja di hari Ahad. Karena aku ambil libur di hari jum'at. Tapi di bulan April nanti aku libur di hari ahad. Sampai kantor pukul 7.45. lalu kulakukan apa yang harus kulakukan.
Saat ini pukul 9, telepon kantor pun berbunyi. Ketika kuangkat, ternyata Bang Ahmad ketua Forum alumni rohis. Aku sangat kaget ketika medengar kabar yang ia sampaikan. Bahwa 2 orang mad'u ku Durra dan Farhat mengalami kecelakan motor ba'da shubuh. Dan saat ini ada Di RS. Cipto Mangunkusumo Cikini. Mendengar kabar itu aku terdiam, hatiku hancur bagaikan di sambar petir, kepanikan pun melanda. Lalu tak tertahan air mata pun mengucur deras. Saat itu juga aku izin pada atasan ku yang juga teman da'wahku di Forum Alumni Rohis, Atrif namanya. Aku langsung bersiap, kuambil kunci motor, jaket dan tas ku. Langsung ku jalan menuju RSCM, sebelumnya aku janjian bertemu bang ahmad dan Ummi Novi untuk bertemu di tetap segar pasar minggu. Diperjalanan aku terbayang oleh fikiran yang selalu membuatku sedih, perasaan bersalah dan segala macam dugaan selalui menghantui, sehingga basahlah pipi ini dengan air mata. Sambil membawa motor aku berusaha untuk menepis segala dugaan itu dan membuang rasa bersalahku. Tapi tetap saja air mata ini menganak sungai...............-_-:
Sampai di Tetep Segar aku bertemu dengan bang ahmad dan Ummi Novi. Kuhapus air mataku, kucoba menahan rasa sedih ini depan mereka, agar mereka tak mengetahuinya. Lalu kami pun menuju RSCM Cikini. Sampai disana aku disambut oleh mad'u ku yang lain, juga bang Isma terlihat di wajah mereka kesedihan yang sangat....... aku berusaha untuk tidak terbawa suasana. Di Salah satu ruangan kulihat Farhat ketua Da'wah kaderisasi Rohis sedang terbaring lemah sambil meneteskan air mata, tangan dan kaki kanannya patah. Juga luka kecil disekitar tubuhnnya. Melihat kondisinya aku sangat terenyuh. Sejenak ku berbicara dengannya tentang musibah ini. Kecelakaan ini terjadi di mampang saat mereka berdua ingin mengerjakan proposal SLDP dirumah Ali untuk suatu acara kegiatan. Kecelakaan ini terjadi karena motor dengan kecepatan tinggi menabrak trotoar di Mampang yang 1 jalur dibelah menjadi 2 jalur. Mereka berdua memakai motor bang Isma untuk pergi. farhat memboncengi durra. Lalu aku bertanya pada farhat, dimana durra? Dia bilang durra ada di ruang ICU. Tanpa berfikir panjang langsung aku mencari ruangan ICU tersebut. Kutemukan seseorang dengan tubuh yang lemah, tak berdaya, terpejam dan ada beberapa orang dokter yang sibuk memberikan pertolongan.
Ya ... Dialah Durra sang ketua Rohis yang saat ini terbaring lemah, yang kondisi fisiknya membuat orang yang melihatnya meneteskan air mata. Bagian bahunya patah. Kepala terkena benturan. Dan luka lecet di beberapa bagian tubuhnya. Nafasnya pun ter engah-engah, sehingga harus menggunakan bantuan selang oxigen. Disampingnya ada teman terbaiknya Farra yang sedang menemaninya. Dengan perlahan kudekati tubuh yang tak berdaya itu. Kuhanya terdiam tak berucap, tanpa kusadari air mata sudah menganak sungai. Sambil kugengam tangan mad'u terbaikku. Dan terus beristigfar pada yang Kuasa. Berharap semuanya ini hanya mimpi. Hati kecil ini seakan-akan tersayat merasakan pilu karena ini nyata kuhadapi............
Tak tahan melihat keadaannya aku pun keluar meninggalkan ruangan itu. Sambil meneteskan air mata dan kupandangi tubuh itu lewat jendela ruangan. Para keluarga mad'u ku pun sudah sampai di rumah sakit. Tak bisa kubayangakan apa yang terjadi bila mereka tau anak-anaknya dalam kondisi seperti itu. Dan aku pun bingung apa yang harus kulakukan nanti. Semoga orang tua mereka bisa tabah mengahadapi ujian ini.
Lalu aku pun pergi ke ruang tunggu Rumah sakit itu. Kudapati orang tua Durra dan Ummi novi sedang duduk, juga beberapa teman2 rohis yang lain. Ibunya pun bercerita banyak tentang anak kesayangannya Durra. Sambil meneteskan air mata ia pun bercerita kepada kami. Ummi Novi berusaha terus untuk menenangkan sang ibu. Aku pun sempat berbincang dengan ibu nya. Aku menceritakan bahwa durra adalah murid ku yang terbaik, ia sangat bersemangat, enerjik, sangat ingin tau tentang Islam, rasa setia kawan yang tinggi, sayang kepada keluarga dan mempunyai hati yang peka. Tak jarang suatu ketika kita Liqo ia sering meneteskan air mata mengenai materi yang aku sampaikan. Satu yang ku tau sangat menonjol darinya, ia mempunyai jiwa leadership yang sangat baik. Ibunya pun bercerita tentang kehidupannya dirumah. Bahwa ia anak yang berbakti, suka membantu orang tua dan suka menasihati keluarganya tentang Islam, terutama ibu dan kakak pertamanya bang Dicky. Aku pun terharu mendengarkan cerita langsung dari ibunya. Dalam hati aku bersyukur mempuyai mad'u yang berhasil membimbing diri dan keluarganya kepada Sinaran Islam yang sesungguhnya.
Tak terasa waktu sudah menujukan pukul 12.05, menadakan waktu dzuhur akan masuk beberapa menit lagi. Aku dan bang ahmad bersiap untuk shalat dzuhur di musholla RSCM yang ukurannya kira2 hanya 3x3 meter. Didalam shalatku, aku memohon kepada Allah agar menyelamatkan Durra dari kondisinya saat ini. Aku tidak ingin sesuatu yang buruk menimpanya. Saat itulah aku merasa sangat dekat sekali dengan Rabbku. Aku sangat berharap Pada Nya, Menangis di hadapan Nya dan memohon kepada Nya. Dan berharap keajaiban akan terjadi..........................
Setelah shalat akupun kembali ke ruang tunggu. Di sana masih kujumpai beberapa teman2 rohis, ibu durra, saudaranya dan kakak perempuan farhat yang terus menagis di dekat ibu durra karena merasa bersalah yang amat sangat. Dan kulihat farhat bersiap di bawa pulang keluarganya untuk berobat ke H. Na'im pakar pengobatan tulang. Bang Isma pun menemani keluarganya berobat. Sedangkan ummi novi sedang mencari makanan untuk teman2 rohis.
Tak terasa waktu menjukan pukul 13.30. Sudah waktunya aku kembali ke kantor. Karena aku diizinkan keluar oleh bos ku hanya sampai jam 14.00. Aku dan bang Ahmad pun izin pamit lebih awal kepada teman2 rohis, keluarganya durra dan farhat. Dalam perjalannan pulang aku pun selalu terbayang2 dengan kondisi durra yang sekarang. Dan selalu berdoa agar Allah berkenan memberikan kesehatan dan kesembuhan padanya. Dan yang paling penting ia dapat sadar dari tidurnya. Kenangan bersamanya pun terbuka, dan kembali lagi air mata ini mengalir tak tertahan...........
No comments:
Post a Comment